GROUP RADAK BABEL

Team Radak Babel Team Radak Babel Team Radak Babel

Muara Dangkal, Harapan Nelayan Tersendat: Konflik Pecah di Tengah Penantian Pengerukan

RADAKBABEL.COM, SUNGAILIAT – Bagi nelayan Sungailiat, muara Air Kantung bukan sekadar jalur air. Di sanalah perahu berangkat mencari nafkah dan kembali membawa hasil tangkapan untuk menghidupi keluarga. Namun, ketika alur muara mengalami pendangkalan dan pengerukan terhenti selama hampir satu bulan, denyut kehidupan nelayan pun ikut tersendat.

Kondisi itu memunculkan kegelisahan yang akhirnya memuncak pada Selasa (28/7/2026), ketika puluhan nelayan mendatangi Pos Penimbangan PT Timah di Jelitik. Mereka datang bukan untuk mencari konflik, melainkan meminta kepastian kapan jalur vital yang setiap hari mereka gunakan kembali dapat dilalui dengan aman.

Dalam pertemuan tersebut, Wastam PIP Jelitik, Wendi, menjelaskan bahwa terhentinya pengerukan bukan disengaja. Alat berat yang selama ini digunakan merupakan pinjaman dari Balai Karya dan sempat ditarik kembali karena diperlukan untuk pekerjaan perbaikan pagar di lokasi lain.

Setelah alat berat pengganti berhasil diperoleh, kendala berikutnya muncul. Operator yang biasa mengoperasikan alat tersebut harus pulang ke Sulawesi untuk merawat orang tuanya yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit. Upaya mencari operator pengganti belum membuahkan hasil sehingga pengerukan kembali tertunda.

Baca Juga  Korban Laka Tambang Ditampung di Rumah Orang Tua Akian, Peran Pengumpul Timah Mulai Terkuak

Penjelasan tersebut sempat diterima dengan baik oleh para nelayan. Namun suasana berubah ketika pembahasan beralih pada dana bantuan sosial dari para penambang yang digunakan untuk mendukung operasional normalisasi alur muara.

Sebagian nelayan mempertanyakan sisa dana yang disebut masih sekitar Rp10 juta. Menurut mereka, ketika pengelolaan sebelumnya masih berlangsung, dana yang terkumpul dalam waktu kurang dari satu bulan bahkan mencapai sekitar Rp14 juta. Perbedaan persepsi itulah yang memicu perdebatan hingga nyaris berujung bentrokan antarsesama nelayan.

“Yang kami inginkan sederhana, jangan sampai sesama nelayan dibuat saling berhadapan. Kalau memang aktivitas di depan muara mengganggu, lebih baik dihentikan,” ujar salah seorang nelayan dalam forum tersebut.

Situasi yang sempat memanas akhirnya berhasil diredam setelah kedua kelompok dipisahkan oleh pihak yang hadir di lokasi sehingga tidak berkembang menjadi keributan yang lebih besar.

Di balik insiden itu, persoalan utama yang dirasakan nelayan tetap sama, yakni kebutuhan mendesak agar alur muara segera dinormalisasi. Pendangkalan membuat aktivitas keluar-masuk perahu menjadi sulit, terutama saat air surut. Risiko kandas meningkat dan waktu melaut menjadi lebih panjang, yang pada akhirnya berdampak pada penghasilan nelayan.

Baca Juga  Nama yang Terus Muncul di Persidangan, Mengapa Yopi Bun dan Hendra Belum Tersentuh?

Wendi mengatakan hasil pertemuan akhirnya menghasilkan sejumlah kesepakatan. Alat berat yang telah tersedia akan kembali digunakan untuk melakukan pengerukan alur muara. Selain itu, Ponton Isap Produksi (PIP) yang beroperasi di depan muara diminta menjauh agar jalur pelayaran nelayan tidak terganggu.

Ia juga menegaskan bahwa penggunaan dana bantuan sosial, baik pemasukan maupun pengeluarannya, dapat dipertanggungjawabkan sesuai peruntukannya.

Sementara itu, informasi yang dihimpun dari sumber lain menyebutkan bahwa kegiatan normalisasi alur muara sebelumnya dikelola oleh panitia yang dipimpin Oman. Seiring berjalannya waktu, pengelolaan dana normalisasi mulai dipertanyakan oleh sejumlah nelayan.

Agus, yang disebut sebagai koordinator nelayan, meminta adanya transparansi terkait penggunaan dana serta laporan keluar masuk anggaran kegiatan pengerukan. Desakan tersebut akhirnya membuat Oman mengundurkan diri dari kepanitiaan, dan pengelolaan normalisasi alur muara kemudian diambil alih oleh PT Timah.

Baca Juga  Satgas Penertiban Tambang Ilegal: Ketika Penegakan Hukum Berjalan Berseberangan

Kini, harapan nelayan hanya satu: pengerukan kembali berjalan secara rutin sehingga alur Muara Air Kantung dapat kembali menjadi jalur yang aman. Sebab bagi mereka, muara yang lancar bukan hanya soal akses pelayaran, melainkan tentang keberlangsungan mata pencaharian ratusan keluarga nelayan di Sungailiat. (Radak)

Hargai Karya Radak Jangan Salin Tanpa Izin

error: Content is protected !!