GROUP RADAK BABEL

Team Radak Babel Team Radak Babel Team Radak Babel

Menelusuri Jejak Suku Sula dan Asal Nama Desa Leko Sula

Oleh: Dani Putra Lekosula

MALUT, RADAKBABEL.COM — Di balik sebuah nama desa, sering kali tersimpan cerita panjang tentang perjalanan manusia, perpindahan leluhur, bahasa, adat, hingga hubungan masyarakat dengan tanah yang mereka tempati.

Hal itu pula yang menarik untuk ditelusuri dari Desa Leko Sula, sebuah desa di Kecamatan Mangoli Barat, Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara.

Namanya sederhana, tetapi menyimpan pertanyaan yang menarik: mengapa desa ini bernama Leko Sula? Apakah nama tersebut memiliki hubungan langsung dengan Suku Sula yang sejak lama mendiami wilayah Kepulauan Sula?

Pertanyaan tersebut membawa kita lebih jauh untuk mengenal masyarakat Sula, salah satu kelompok etnis yang menjadi bagian penting dari sejarah Kepulauan Sula.

Sula dan Jejak Masyarakat Asli Kepulauan Sula

Suku Sula dikenal sebagai salah satu kelompok etnis yang berasal dari wilayah Kepulauan Sula, khususnya Pulau Sulabesi. Dalam sejumlah sumber, masyarakat Sula juga disebut dengan nama Matapia Sua atau Orang Sula. Mereka memiliki bahasa dan identitas budaya sendiri yang berkembang dari kehidupan masyarakat kepulauan. (Daftar Sekolah)

Dalam kehidupan sosial masyarakat Sula, terdapat empat kelompok besar yang kerap disebut, yakni Ya Fai Fatce, Ya Fai Fagudu, Ya Fai Fahu, dan Ya Fai Mangon. Keempatnya dikenal dalam struktur sosial masyarakat Sula dan memiliki dialek serta karakter budaya yang memiliki kemiripan satu sama lain. (E-Jurnal STAI Babussalam Sula)

Masyarakat Sula sejak dahulu hidup dengan memanfaatkan kekayaan alam di sekitarnya. Pertanian, perkebunan, dan perikanan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Di tengah perkembangan zaman, tradisi dan nilai kebersamaan tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial masyarakat.

Salah satu ungkapan yang dikenal dalam masyarakat Sula adalah “Dad Hia Ted Sua”, yang dimaknai sebagai semangat bersatu untuk membangun Sula. Nilai kebersamaan tersebut juga tercermin dalam berbagai tradisi gotong royong masyarakat. (KORANMALUT.CO.ID)

Empat Kelompok Besar dan Identitas Sula

Sejarah masyarakat Sula tidak hanya berbicara tentang satu kelompok yang berdiri sendiri. Identitas Sula berkembang melalui komunitas-komunitas yang hidup di berbagai wilayah kepulauan.

Baca Juga  Event UMKM Kemerdikaan Sepi: Pedagang Keluhkan Omzet Minim, Harga Sewa Stan Mahal

Catatan akademik mengenai masyarakat Sula menyebutkan bahwa kelompok Yafai Fatce berada di bagian barat Pulau Sulabesi, Yafai Fagudu di bagian selatan, Yafai Faahu di bagian utara, sementara Yafai Mangon berada di bagian timur. Masyarakat tersebut hidup tersebar di wilayah pegunungan hingga pesisir. (UIN Sunan Gunung Djati Library)

Kondisi geografis kepulauan turut membentuk kehidupan masyarakat. Jarak antarpulau, wilayah pesisir, pegunungan, dan kampung-kampung yang tersebar membuat masyarakat membangun hubungan sosial berdasarkan keluarga, kelompok, adat, serta wilayah tempat tinggal.

Karena itulah, ketika berbicara tentang Suku Sula, kita tidak hanya berbicara mengenai sebuah nama suku. Kita sedang membicarakan identitas masyarakat yang memiliki sejarah panjang di kawasan kepulauan tersebut.

Lalu, Apa Hubungannya dengan Leko Sula?

Di sinilah cerita menjadi menarik.

Leko Sula tercatat sebagai salah satu desa di Kecamatan Mangoli Barat. Data BPS mengenai Kecamatan Mangoli Barat mencatat bahwa masyarakat di Desa Leko Sula terdiri antara lain dari masyarakat Sula, Buton, dan Flores. (BPS Web API)

Fakta tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Leko Sula hari ini merupakan bagian dari kehidupan sosial yang beragam. Namun, keberadaan masyarakat Sula di desa tersebut membuat nama “Sula” menjadi menarik untuk ditelusuri lebih jauh.

Apakah nama Leko Sula memang diambil dari identitas masyarakat Sula?

Ataukah nama tersebut berasal dari istilah dalam bahasa lokal yang memiliki makna tertentu?

Atau mungkin nama itu merupakan bagian dari sejarah perpindahan dan pembentukan permukiman masyarakat di wilayah Mangoli?

Jawaban pastinya membutuhkan penelusuran sejarah lokal dan keterangan dari masyarakat yang mengetahui asal-usul desa tersebut.

Karena itu, tidak tepat jika asal nama Leko Sula langsung disimpulkan hanya berdasarkan kesamaan kata “Sula”. Kesamaan nama belum otomatis membuktikan bahwa nama desa tersebut diberikan karena Suku Sula.

Justru di situlah nilai sejarahnya.

Baca Juga  BREAKINGNEWS: Pasir Timah Itu Kabarnya Milik Kolektor Agus Jebus

Cerita yang Mungkin Hanya Tersimpan di Ingatan Para Tetua

Sejarah sebuah desa terkadang tidak seluruhnya tertulis dalam buku.

Sebagian justru tersimpan dalam ingatan orang-orang tua: cerita yang disampaikan dari orang tua kepada anak, dari kakek kepada cucu, atau dari para tetua adat kepada generasi berikutnya.

Cerita tentang siapa yang pertama membuka permukiman, dari mana leluhur datang, bagaimana masyarakat membangun kehidupan, serta kapan nama Leko Sula mulai digunakan bisa menjadi kepingan penting untuk memahami sejarah desa.

Karena itu, untuk mengungkap asal-usul Leko Sula secara utuh, kesaksian tetua masyarakat, tokoh adat, pemerintah desa, dokumen desa, serta arsip sejarah daerah menjadi sumber yang sangat penting.

Bukan tidak mungkin, di balik nama Leko Sula terdapat kisah perpindahan masyarakat, pembukaan wilayah baru, atau hubungan kekerabatan yang selama ini hanya diketahui oleh generasi terdahulu.

Bahasa sebagai Penjaga Identitas

Salah satu hal penting dalam memahami Suku Sula adalah bahasa.

Bahasa Sula merupakan salah satu bahasa daerah yang terdapat di Maluku Utara. Dalam kehidupan masyarakat, bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga menjadi bagian dari identitas dan warisan budaya. (STEKOM Semarang)

Melalui bahasa, nama tempat, nama kampung, istilah adat, cerita rakyat, hingga ungkapan kehidupan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Itulah sebabnya, jika ingin benar-benar mengetahui arti “Leko Sula”, penelitian terhadap bahasa lokal dan penuturan masyarakat setempat menjadi sangat penting.

Satu kata bisa memiliki makna yang berbeda ketika diterjemahkan dari bahasa daerah ke bahasa Indonesia. Karena itu, arti nama desa sebaiknya tidak ditebak, melainkan digali dari sumber lokal yang memahami bahasa dan sejarah masyarakatnya.

Leko Sula di Tengah Keragaman

Hari ini, masyarakat Leko Sula hidup dalam lingkungan sosial yang tidak hanya terdiri dari satu latar belakang etnis.

Data BPS menunjukkan keberadaan masyarakat Sula bersama masyarakat Buton dan Flores di Desa Leko Sula. (BPS Web API)

Baca Juga  Futmuk Divonis 3 Tahun, Timah Ilegal Bernilai Ratusan Ribu per Kg: Siapa Pemodalnya?

Keragaman tersebut justru menjadi bagian dari cerita perjalanan desa.

Sebuah desa dapat memiliki satu nama, tetapi di dalamnya terdapat banyak keluarga, latar belakang, pengalaman, dan cerita kehidupan. Mereka kemudian hidup berdampingan, membangun rumah, mengembangkan ekonomi, mendidik anak-anak, serta menjaga hubungan sosial.

Dengan demikian, Leko Sula bukan hanya tentang sebuah nama yang tertera di papan desa.

Ia adalah ruang tempat berbagai perjalanan manusia bertemu.

Sula, Sebuah Identitas yang Terus Hidup

Sejarah Suku Sula menunjukkan bahwa identitas sebuah masyarakat tidak hanya ditentukan oleh tempat tinggal. Ia terbentuk melalui bahasa, adat, hubungan kekerabatan, tradisi, serta ingatan kolektif yang diwariskan lintas generasi.

Begitu pula dengan Leko Sula.

Nama desa tersebut menjadi pintu untuk membuka cerita yang lebih panjang tentang masyarakat Kepulauan Sula—tentang leluhur, perpindahan manusia, kebudayaan, dan bagaimana sebuah komunitas membangun kehidupan di tengah wilayah kepulauan.

Mungkin nama “Leko Sula” hanyalah dua kata bagi orang yang baru mendengarnya. Namun bagi masyarakat yang tinggal di dalamnya, nama itu bisa menjadi bagian dari identitas dan sejarah yang telah diwariskan selama bertahun-tahun.

Dan untuk mengetahui cerita sebenarnya, jawabannya mungkin tidak ditemukan di internet.

Jawabannya bisa jadi masih tersimpan di rumah-rumah tua, dalam cerita para tetua, dalam bahasa lokal, dan dalam ingatan masyarakat Leko Sula sendiri. (radak)

Hargai Karya Radak Jangan Salin Tanpa Izin

error: Content is protected !!