GROUP RADAK BABEL

Team Radak Babel

Mencari Nafkah Berujung Maut, Rasid Tewas di Tambang Tembelok, Tiga Anak Kehilangan Sang Ayah

BANGKA BARAT, RADAKBABEL.COM – Tragedi kembali menyelimuti aktivitas tambang inkonvensional di Perairan Keranggan dan Tembelok, Kecamatan Mentok, Kabupaten Bangka Barat. Rasid (39), warga Desa Teluk Limau, meninggal dunia setelah tertimbun longsoran tanah saat melakukan penyelaman di lokasi tambang pada Minggu (28/6/2026) sekitar pukul 01.20 WIB.

Peristiwa memilukan itu kembali menambah daftar panjang korban jiwa di kawasan yang disebut-sebut telah lama menjadi lokasi aktivitas penambangan ilegal. Meski insiden serupa berulang kali terjadi, praktik penambangan tersebut diduga tetap berlangsung tanpa penindakan yang efektif.

Kesedihan mendalam menyelimuti keluarga korban. Rasid pergi untuk mencari nafkah, namun justru pulang dalam keadaan tidak bernyawa. Ia meninggalkan seorang istri dan tiga anak yang masih kecil, yang kini harus menghadapi masa depan tanpa sosok ayah.

Baca Juga  Sidang KKEP Bripka Sodikin Ditunda, Korban Minta PTDH

Menurut keterangan keluarga dan sejumlah rekan korban, aktivitas tambang tersebut diduga dikelola oleh seorang pria bernama Gopari, yang disebut telah lama berkecimpung dalam dunia pertambangan ilegal.

“Gopari yang urus, Pak. Kami hanya menjalankan instruksi dan katanya sudah ada koordinasi dengan aparat,” ujar salah seorang rekan korban.

Pernyataan tersebut merupakan klaim dari narasumber dan belum dapat diverifikasi secara independen. Pihak yang disebut dalam keterangan tersebut juga belum memberikan tanggapan.

Keluarga korban berharap pihak yang mengelola aktivitas tambang tidak lepas tangan dan bertanggung jawab atas peristiwa yang merenggut nyawa Rasid. Mereka juga meminta aparat penegak hukum mengusut penyebab kecelakaan serta menelusuri dugaan pihak-pihak yang bertanggung jawab apabila ditemukan unsur pelanggaran hukum.

Baca Juga  Belum Genap Setahun, Proyek PT Cakra Ini Kok Sudah Rusak ?

Tragedi ini kembali menjadi pengingat bahwa aktivitas pertambangan tanpa standar keselamatan yang memadai dapat berujung pada hilangnya nyawa. Di balik setiap kecelakaan, ada keluarga yang kehilangan tulang punggung, ada anak-anak yang kehilangan kasih sayang seorang ayah, dan ada pertanyaan besar yang terus bergema: sampai kapan korban jiwa terus berjatuhan sebelum ada tindakan yang benar-benar menghentikan praktik tambang yang diduga melanggar hukum (RADAK)

Hargai Karya Radak Jangan Salin Tanpa Izin

error: Content is protected !!