GROUP RADAK BABEL

Team Radak Babel Team Radak Babel Team Radak Babel

MANSUR: Rakus Sendiri, Hak Orang Lain Ikut Disikat

RADAKBABEL.COM, OPINI — Ada satu penyakit sosial yang barangkali belum masuk daftar penyakit Kementerian Kesehatan. Namanya Mansur.
Bukan nama orang. Bukan pula nama kampung.

Mansur adalah singkatan dari “makan surang”—sebuah perilaku ketika seseorang merasa semua yang ada di depan mata adalah kesempatan untuk mengisi piring sendiri. Soal orang lain kebagian atau tidak, itu urusan belakangan.

Kalau perlu, piring orang lain pun ikut disikat.

Yang penting: kenyang sendiri.

Dalam bahasa sederhana, Mansur bisa disebut serakah. Bedanya, orang serakah mungkin masih sesekali merasa malu. Kalau sudah terkena “sindrom Mansur” tingkat tinggi, rasa malu itu konon ikut dimakan.

Makan surang, makan surang, dan makan surang lagi. Persis seperti sebuah candu. Candu Mengisi Piring Sendiri.

Orang yang sudah kecanduan Mansur biasanya punya satu pertanyaan besar dalam hidup: “Apa lagi yang bisa saya dapat?”

Bukan: “Siapa yang belum mendapatkan haknya?”

Bukan pula: “Apakah ini milik saya?”

Pertanyaannya sederhana saja: “Bisa masuk kantong saya atau tidak?”

Kalau bisa, ambil. Kalau belum bisa, cari cara. Kalau sudah dapat, jangan lupa cari lagi. Kalau ada hak orang lain yang kebetulan berada di depan mata, muncul logika ajaib “Ya sudah, nanti saja dibaginya.”

Masalahnya, “nanti” itu kadang panjang sekali. Bahkan bisa sampai orang yang punya hak lupa bahwa dirinya punya hak. Di situlah Mansur berubah dari sekadar kebiasaan menjadi karakter.

Mirip Candu, Bedanya Tidak Perlu Alat Tes

Mansur memang bukan kecanduan narkotika. Tetapi secara metaforis, polanya bisa terasa mirip dengan perilaku kecanduan.

Baca Juga  Meja Goyang Ramai Bergoyang di Sepanjang Jalan Manggar, Gantong dan Damar: APH di Beltim Letoy Tak Berani Tegakkan Hukum

Orang yang mengalami ketergantungan zat dapat memiliki dorongan kuat untuk mendapatkan dan menggunakan zat tersebut. Sementara “pecandu Mansur” memiliki dorongan kuat untuk mendapatkan keuntungan pribadi.

Bedanya cukup sederhana. Kalau pecandu sabu berpikir “Dari mana saya mendapatkan sabu?” Maka pecandu Mansur berpikir “Dari mana saya mendapatkan bagian lebih?”

Dan kalau uang menjadi persoalan, muncullah pertanyaan lanjutan “Dari mana uangnya?” Nah, di sinilah analoginya menjadi pahit.

Sebab dalam dunia Mansur, kadang hak orang lain pun dianggap seperti ATM tanpa PIN. Tinggal diambil.

Belum “Mansur”, Belum Tenang

Pecandu Mansur biasanya sulit tidur bukan karena kopi. Pikirannya berputar “Besok dapat apa?”. “Bagaimana caranya dapat lebih?”. “Kalau yang ini bisa saya ambil, lumayan.” “Kalau orang lain tidak tahu, aman.”

Bahkan ketika sudah memperoleh sesuatu, bukannya puas, malah muncul kebutuhan baru.

“Masih ada lagi tidak?”

Inilah yang membuat Mansur berbahaya.

Karena kebutuhan manusia sebenarnya ada batasnya. Tetapi keserakahan tidak punya garis finish.

Perut punya kapasitas. Kantong tidak selalu punya kapasitas. Tetapi keinginan untuk menguasai bisa tidak terbatas.

Ciri-Ciri “Pecandu Mansur”

Kalau orang kecanduan narkoba tentu membutuhkan pemeriksaan medis untuk memastikan kondisi sebenarnya.

Namun, dalam dunia satire, pecandu Mansur dapat dikenali dari beberapa “gejala”.

Pertama, matanya selalu tertuju pada peluang.

Bukan mata merah karena narkoba, tetapi mata yang berbinar ketika melihat ada sesuatu yang bisa dimanfaatkan.

Kedua, sulit tidur. Bukan karena sakau, tetapi karena memikirkan bagaimana caranya supaya bagian sendiri semakin besar.

Ketiga, gelisah. Bukan karena belum mengonsumsi sabu, melainkan karena belum mendapatkan sesuatu untuk dirinya sendiri.

Baca Juga  IUP Tak Digarap, Smelter Tetap Beroperasi: Dari Mana Pasir Timah Berasal?

Keempat, nafsu makan tidak pernah selesai. Bukan soal makanan, tetapi soal keuntungan. Sudah makan, masih mencari lauk. Sudah dapat lauk, mencari nasi. Sudah kenyang, melihat piring tetangga.

Kelima, mudah marah ketika ditegur. Begitu ada yang bertanya, “Itu kan hak orang lain?”

Jawabannya bisa macam-macam. Mulai dari pura-pura tidak dengar sampai wajah berubah seperti sedang dituduh mencuri negara.

Keenam, sulit berbagi. Ini gejala paling mudah dikenali. Kalau ada sepuluh, ingin sebelas.

Kalau dapat sebelas, bertanya apakah bisa dua belas. Kalau orang lain mendapatkan bagian, merasa dirinya yang dirugikan.

Yang Paling Berbahaya: Hilangnya Rasa Malu

Mansur yang sudah akut bukan lagi sekadar soal mengambil lebih banyak. Yang paling mengkhawatirkan adalah ketika seseorang kehilangan kemampuan membedakan mana haknya dan mana hak orang lain.

Di titik itu, integritas mulai terkikis. Kapasitas berpikir sehat ikut terganggu. Rasa malu perlahan menghilang. Dan yang tersisa hanya satu prinsip: “Yang penting saya dapat.”

Padahal hidup bermasyarakat bukan lomba siapa yang paling cepat memenuhi piring sendiri. Ada hak orang lain. Ada kepentingan bersama. Ada amanah. Ada batas. Dan ada sesuatu yang namanya malu.

Jangan Sampai Mansur Menjadi Identitas

Mansur sebenarnya bisa disembuhkan dengan satu resep sederhana yakni dengan kata “cukup”.

Cukup mengambil yang memang menjadi hak sendiri.

Cukup mencari keuntungan yang wajar.

Cukup menghormati hak orang lain.

Dan yang paling penting, belajar mengatakan “Ini bukan milik saya.” Kalimat sederhana itu justru menjadi obat paling ampuh bagi penyakit serakah.

Baca Juga  Satgas PKH Telusuri Ekskavator Hitachi Milik Aon yang Hilang, Kebun Sawit Haji Kat Ikut Disorot

Sebab orang yang mampu mengatakan “cukup” adalah orang yang tahu batas. Sementara orang yang tidak pernah merasa cukup, sebanyak apa pun yang dimilikinya, tetap akan merasa kurang.

Maka pesan moralnya sederhana “Jangan Mansur”.

Sebab kalau sudah terlalu lama makan surang, lama-lama orang bisa lupa bahwa hidup ini bukan prasmanan pribadi.

Dan jangan pula menganggap semua yang ada di depan mata otomatis menjadi hak sendiri.

Karena kalau setiap orang berpikir begitu, yang tersisa bukan masyarakat.

Yang tersisa hanyalah perang rebutan piring.

Dan dalam perang seperti itu, biasanya yang paling kenyang belum tentu yang paling benar.

Kadang justru yang paling rakus.

Makan boleh. Makan enak silakan. Mencari keuntungan juga sah. Tetapi kalau setiap hari yang dipikirkan hanya bagaimana mengambil lebih banyak dari hak orang lain, mungkin masalahnya bukan lagi lapar.

Mungkin piringnya yang sudah berubah menjadi candu. (RADAK)

Hargai Karya Radak Jangan Salin Tanpa Izin

error: Content is protected !!