GROUP RADAK BABEL

Team Radak Babel Team Radak Babel Team Radak Babel

Legenda Air Panas Nyelanding: Kisah Bujang Nyelanding, Kebaikan Hati, dan Janji yang Dikhianati

RADAKBABEL.COM, BANGKA SELATAN — Di balik hangatnya mata air Air Panas Nyelanding, Kabupaten Bangka Selatan, tersimpan sebuah legenda yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat setempat.

Bukan sekadar cerita tentang mata air panas, legenda ini berkisah tentang kebaikan hati, kemurahan hati, cinta, sekaligus sebuah janji yang berakhir dengan penyesalan.

Kisah tersebut bermula dari seorang pemuda bernama Bujang Nyelanding. Ia dikenal sebagai sosok sederhana, baik hati dan gemar membantu sesama. Meski hanya mengandalkan hasil berladang jabak sejenis tanaman pangan yang dikenal dalam kisah masyarakat setempat Bujang Nyelanding tidak pernah ragu berbagi rezeki kepada warga yang membutuhkan.

Suatu senja, setelah mengikuti upacara adat Hikuk Halawang, Bujang Nyelanding bergegas pulang. Dalam perjalanan, ia bertemu seorang nenek tua yang tampak tersesat dan kelaparan.

Rasa iba membuat Bujang Nyelanding menghentikan langkahnya. Nenek tersebut kemudian dibawanya ke pondok. Dengan penuh ketulusan, ia menyuapi sang nenek bubur jabak hingga kenyang.

Namun, siapa sangka, perempuan tua itu ternyata bukanlah nenek biasa.

Setelah selesai makan, perempuan tersebut pergi ke tumbek, sebuah danau kecil di belakang pondok untuk membersihkan diri. Tak lama berselang, ia kembali dengan wujud yang sama sekali berbeda.

Nenek tua itu berubah menjadi seorang gadis cantik bernama Dayang Aluk.

Dayang Aluk ternyata sengaja menyamar sebagai perempuan tua untuk menguji ketulusan dan kebaikan hati Bujang Nyelanding.

Baca Juga  JPU TAK GENTAR! Mardiansyah Dituntut 3 Tahun Bui dan Denda Setengah Miliar

Kecantikan Dayang Aluk membuat Bujang Nyelanding jatuh hati. Ia kemudian berniat menjadikannya sebagai pendamping hidup.

Dayang Aluk menerima pinangan tersebut, tetapi dengan satu syarat: Bujang Nyelanding tidak boleh masuk ke dapur.

Bujang Nyelanding menyanggupi syarat itu.

Tahun demi tahun berlalu. Rumah tangga keduanya hidup harmonis. Bujang Nyelanding tetap dikenal sebagai pribadi yang murah hati. Hasil panen jabak yang diperolehnya bahkan kerap dibagikan kepada masyarakat yang lebih membutuhkan.

Anehnya, meski terus dibagikan, persediaan jabak di rumah mereka seolah tidak pernah habis.

Namun, rasa penasaran perlahan mengalahkan janji.

Bujang Nyelanding mulai bertanya-tanya mengapa istrinya begitu keras melarang dirinya memasuki dapur. Hingga suatu hari, ketika Dayang Aluk sedang memasak bubur jabak, Bujang Nyelanding akhirnya melanggar larangan tersebut.

Apa yang dilihatnya membuat dirinya terperangah.

Dayang Aluk ternyata bukan manusia biasa. Ia adalah seorang dewi dengan sayap indah yang berkilauan. Dari setiap kepakan sayapnya, bulir-bulir jabak berjatuhan dalam jumlah melimpah.

Rahasia itulah yang selama ini membuat persediaan jabak mereka tidak pernah habis.

Namun, kesaktian Dayang Aluk memiliki syarat. Kekuatan tersebut akan lenyap apabila wujud aslinya diketahui dan dilihat manusia.

Dayang Aluk kecewa. Bujang Nyelanding telah mengingkari janji.

Dalam kemarahannya, Dayang Aluk membuang bubur jabak yang masih panas beserta periuknya ke tumbek di belakang rumah.

Baca Juga  Kuasa Hukum Toko Emas Gunung Kawi Ancam Laporkan Nellia: Ada Pemufakatan Jahat Surat Pernyataan Kadar 16 Karat

Peristiwa itu dipercaya menjadi awal mula munculnya mata air panas Nyelanding.

Air tumbek yang sebelumnya biasa, mendadak berubah menjadi panas. Periuk yang ikut dibuang pun dipercaya berubah menjadi sumber air panas yang dapat diminum dan oleh masyarakat diyakini memiliki khasiat bagi kesehatan serta awet muda.

Dayang Aluk kemudian meninggalkan Bujang Nyelanding. Ia pergi jauh dan tidak pernah kembali. Dalam cerita masyarakat, tempat pelariannya kemudian dikenal sebagai Kelekak Nek Aluk.

Sementara itu, mata air panas yang dipercaya berasal dari peristiwa tersebut tetap mengalir hingga kini. Masyarakat kemudian mengenalnya sebagai Air Panas Nyelanding, sebuah nama yang tidak lepas dari sosok Bujang Nyelanding yang dikenang karena kemurahan hatinya.

Hikuk Halawang, Tradisi yang Tetap Hidup

Legenda Air Panas Nyelanding juga tidak dapat dipisahkan dari tradisi adat Hikuk Halawang, yang hingga kini terus dilestarikan masyarakat Desa Nyelanding.

Tradisi tersebut menjadi bagian dari ritual menyambut Tahun Baru Hijriah sekaligus ungkapan rasa syukur atas hasil panen. Masyarakat juga memanjatkan doa agar kampung mereka dijauhkan dari musibah dan malapetaka.

Dalam tradisi yang diwariskan secara turun-temurun itu, kaum laki-laki berkumpul di balai desa maupun tempat ibadah dengan membawa dulang berisi hidangan, termasuk masakan ayam dan nasi ketan.

Baca Juga  Terungkap, Jaringan Pemilik Timah Ilegal Lebih Luas: 15 Nama Kuasai Lebih dari 80 Ton

Makanan kemudian disantap bersama dalam suasana penuh kekeluargaan. Tradisi dilanjutkan dengan silaturahmi antarwarga dan kerabat.

Bagi masyarakat Nyelanding, kisah Bujang Nyelanding bukan sekadar dongeng masa lalu. Legenda tersebut menjadi bagian dari identitas budaya yang mengandung pesan tentang kebaikan, keikhlasan berbagi, pentingnya menjaga kepercayaan, serta konsekuensi ketika sebuah janji dilanggar.

Air Panas Nyelanding akhirnya bukan hanya tentang air yang mengalir dari perut bumi. Ia menjadi bagian dari cerita panjang masyarakat Bangka Selatan—sebuah legenda yang menghubungkan alam, tradisi, dan nilai-nilai kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi. (RADAK)

Oleh: Toni Pratama

Sumber: Mahasiswa KKN MAs 2023 Desa Nyelanding, Bangka Selatan.

Hargai Karya Radak Jangan Salin Tanpa Izin

error: Content is protected !!