GRUB RADAK BABEL

Team Radak Babel

Ketika Jurnalis Kehilangan Netralitas: Ancaman bagi Demokrasi

La Ode M. Murdani Wartawan Muda Bangka Belitung Nomor UKW: 19351-FIKOM UPDM (B)/WDa/DP/V/2021/06/11/89

Opini:

Oleh – La Ode M. Murdani Wartawan Muda Bangka Belitung.

RADAKBABEL.COM, BANGKA BELITUNG — Jurnalisme sejatinya berdiri di atas prinsip kebenaran, independensi, dan keberpihakan pada kepentingan publik. Seorang jurnalis diharapkan menjadi mata dan telinga masyarakat, menyampaikan fakta apa adanya tanpa dipengaruhi kepentingan kekuasaan maupun afiliasi politik tertentu. Namun, ketika jurnalis tidak lagi netral dan secara aktif berkecimpung di dunia politik, maka batas antara penyampai informasi dan alat propaganda menjadi kabur.

Keterlibatan jurnalis dalam politik praktis, baik sebagai tim sukses, juru bicara, maupun simpatisan aktif, berpotensi besar merusak objektivitas pemberitaan. Berita yang disajikan tidak lagi murni berdasarkan fakta, melainkan dipilih, disusun, dan diarahkan untuk menguntungkan kelompok atau kepentingan tertentu. Dalam kondisi ini, publik tidak disuguhi kebenaran, melainkan opini yang dibungkus seolah-olah sebagai fakta.

Lebih jauh, jurnalis yang tidak netral dapat memicu polarisasi di tengah masyarakat. Media yang seharusnya menjadi ruang edukasi dan dialog justru berubah menjadi arena konflik dan pertarungan narasi politik. Akibatnya, kepercayaan publik terhadap media semakin menurun. Masyarakat menjadi skeptis, sulit membedakan mana berita yang faktual dan mana yang sarat kepentingan.

Di sisi lain, perlu diakui bahwa jurnalis juga adalah warga negara yang memiliki hak politik. Namun, hak tersebut semestinya dibatasi oleh etika profesi. Kode etik jurnalistik menuntut jurnalis untuk menjaga jarak dari kekuasaan dan kepentingan politik agar independensi tetap terjaga. Ketika seorang jurnalis memilih terjun aktif ke dunia politik, maka secara etis ia seharusnya melepaskan peran jurnalistiknya atau setidaknya tidak lagi terlibat dalam produksi berita politik.

Baca Juga  Luarnya Religius, Dalamnya Brutal? Kasus Penganiayaan Santri Gegerkan Bangka!

Netralitas jurnalis bukan berarti tanpa sikap, melainkan berpihak pada kebenaran dan kepentingan publik. Jurnalis boleh kritis, bahkan harus kritis, tetapi kritik tersebut harus lahir dari data, verifikasi, dan keberimbangan, bukan dari kepentingan politik pribadi atau kelompok.

Jika praktik jurnalisme yang tidak netral terus dibiarkan, maka media akan kehilangan marwahnya sebagai pilar keempat demokrasi. Demokrasi yang sehat membutuhkan pers yang independen, jujur, dan bertanggung jawab. Oleh karena itu, menjaga netralitas jurnalis bukan hanya tanggung jawab individu wartawan, tetapi juga institusi media, organisasi profesi, dan masyarakat sebagai konsumen informasi.

Pada akhirnya, jurnalis yang menjaga integritas dan jarak dari politik praktis bukan hanya melindungi profesinya, tetapi juga menjaga hak publik atas informasi yang benar, adil, dan dapat dipercaya.

Jurnalis Berpolitik: Ketika Pena Menjadi Alat Kekuasaan

Jurnalis yang tidak netral dan terjun ke dunia politik sejatinya telah mengkhianati profesinya sendiri. Alih-alih menjadi penyampai fakta, ia berubah menjadi pemain, bahkan alat propaganda. Dalam kondisi ini, pena tidak lagi digunakan untuk mengungkap kebenaran, melainkan untuk menggiring opini dan menutupi kepentingan.

Lebih berbahaya lagi, publik sering kali tidak menyadari bahwa berita yang mereka konsumsi telah tercemar agenda politik. Fakta dipilih secara selektif, lawan politik disudutkan, sementara pihak yang didukung dipoles seolah tanpa cela. Inilah manipulasi yang paling halus namun mematikan bagi demokrasi.

Baca Juga  Meja Goyang Menggila di Belitung: Tambang Ilegal Berpesta di Tengah Kota, Hukum Dikubur Hidup-hidup

Jurnalis yang rangkap peran sebagai politisi atau tim sukses tidak layak lagi berbicara tentang objektivitas. Ia mungkin masih menyebut dirinya wartawan, tetapi secara etis ia telah menanggalkan independensinya. Netralitas bukan sekadar jargon, melainkan fondasi kepercayaan publik terhadap media.

Jika praktik semacam ini terus dibiarkan, media akan berubah menjadi corong kekuasaan, dan jurnalisme akan kehilangan kehormatannya. Demokrasi pun dipertaruhkan, karena masyarakat tidak lagi mendapatkan informasi yang jujur, melainkan narasi pesanan.

Saat Wartawan Ikut Politik, Siapa yang Bisa Kita Percaya?

Media seharusnya menjadi tempat masyarakat mencari kebenaran. Namun apa jadinya jika jurnalis justru ikut bermain politik? Netralitas yang diharapkan publik pun perlahan menghilang.

Ketika wartawan merangkap sebagai pendukung atau bagian dari kekuatan politik tertentu, berita yang disajikan tidak lagi utuh. Ada fakta yang ditonjolkan, ada pula yang sengaja disembunyikan. Semua disesuaikan dengan kepentingan politik yang dibela.

Akibatnya, masyarakat menjadi bingung dan curiga. Sulit membedakan mana berita dan mana opini. Media yang seharusnya mencerdaskan justru ikut memperkeruh suasana, bahkan memperbesar konflik di tengah masyarakat.

Wartawan tentu punya hak politik sebagai warga negara. Namun, saat ia memilih aktif berpolitik, seharusnya ia juga jujur dan tidak lagi mengatasnamakan profesi jurnalistik. Karena pada akhirnya, media yang dipercaya adalah media yang jujur dan independen.

Erosi Netralitas Jurnalis dalam Praktik Politik

Netralitas merupakan prinsip fundamental dalam praktik jurnalistik. Independensi media menjadi prasyarat utama bagi terwujudnya fungsi pers sebagai pengawas kekuasaan dan penyedia informasi yang akurat bagi publik. Namun, keterlibatan jurnalis dalam politik praktis berpotensi menimbulkan konflik kepentingan yang serius.

Baca Juga  Bukan Tolak Investasi, Warga Nangka Tuntut Keadilan

Ketika jurnalis memiliki afiliasi politik tertentu, objektivitas dalam proses pengumpulan, verifikasi, dan penyajian berita menjadi terdistorsi. Pemberitaan cenderung bersifat bias, baik secara eksplisit maupun implisit, sehingga mengaburkan batas antara fakta dan opini. Hal ini bertentangan dengan prinsip keberimbangan dan independensi sebagaimana diatur dalam kode etik jurnalistik.

Dampak dari ketidaknetralan jurnalis tidak hanya merugikan kredibilitas individu wartawan, tetapi juga melemahkan kepercayaan publik terhadap institusi media secara keseluruhan. Dalam konteks demokrasi, kondisi ini berbahaya karena publik kehilangan sumber informasi yang objektif sebagai dasar pengambilan keputusan politik.

Oleh karena itu, diperlukan komitmen yang kuat dari jurnalis dan institusi media untuk menjaga jarak dengan politik praktis. Penegakan etika profesi menjadi kunci dalam mempertahankan peran pers sebagai pilar demokrasi yang independen dan bertanggung jawab. (**)

Hargai Karya Radak Jangan Salin Tanpa Izin

error: Content is protected !!