GRUB RADAK BABEL

Team Radak Babel

Jalan Raya Disulap Jadi Ranjau Maut: Proyek Sawit PT BPP Diduga Abaikan Nyawa Pengguna Jalan

Gambar ini merupakan foto milik radak babel dan disulap menggunakan IA

BANGKA SELATAN, RADAKBABEL.COM — Deru mesin proyek pabrik sawit milik PT Bukit Palma Prima (BPP) di Desa Nangka tak hanya membawa janji investasi, tapi juga menyeret ancaman nyata ke tengah jalan raya. Ceceran tanah dari truk-truk pengangkut material kini berubah menjadi “ranjau” di ruas Toboali–Pangkalpinang—licin saat hujan, berdebu saat panas, dan setiap hari mengintai keselamatan pengguna jalan.

Keluhan warga bukan isapan jempol. Jalan yang seharusnya menjadi jalur aman justru berubah menjadi lintasan berbahaya. Pengendara roda dua menjadi pihak paling rentan—sekali terpeleset, nyawa bisa jadi taruhan. Di sisi lain, debu tebal yang beterbangan saat cuaca terik perlahan “menyerang” pernapasan warga, terutama para lansia.

Baca Juga  Ketika Oknum “Wartawan Proposal” Bermain Sebagai Korban

“Kami bukan menolak pembangunan, tapi jangan jadikan kami korban! Kendaraan proyek itu harusnya dibersihkan dulu sebelum keluar. Ini jalan umum, bukan jalan perusahaan!” tegas seorang warga dengan nada geram.

Sorotan terhadap PT BPP pun tak terbendung. Aktivitas proyek yang terus berjalan dinilai belum diimbangi dengan pengendalian dampak di lapangan. Tanah yang berserakan bukan sekadar kotoran biasa—ini adalah ancaman yang nyata, kasat mata, dan berulang setiap hari.

Menanggapi kritik, Humas PT BPP, Bravo, menyatakan pihaknya telah memberi instruksi kepada kontraktor untuk menjaga kebersihan jalan. Ia mengklaim pembersihan rutin sudah dilakukan, namun cuaca ekstrem disebut sebagai kendala utama.

“Sudah dibersihkan kemarin, tapi hujan membuat kondisi kembali seperti semula. Kami tidak tinggal diam dan tetap memantau situasi,” ujarnya melalui pesan singkat.

Baca Juga  La Ode M. Murdani: Jurnalis Terbaik 2025 dalam Pengabdian Sosial di Bangka Belitung

Namun bagi warga, alasan cuaca tak lagi cukup. Yang mereka tuntut bukan sekadar respons, melainkan tindakan nyata dan konsisten. Sebab jika pembiaran ini terus berlangsung, maka yang dipertaruhkan bukan lagi kenyamanan—melainkan nyawa manusia.

Proyek boleh berjalan, investasi boleh tumbuh. Tapi ketika keselamatan publik diabaikan, maka itu bukan lagi pembangunan—melainkan ancaman yang dibiarkan hidup di tengah masyarakat. (DK/RADAK)

Hargai Karya Radak Jangan Salin Tanpa Izin

error: Content is protected !!