GROUP RADAK BABEL

Team Radak Babel Team Radak Babel Team Radak Babel

Dodol Khas Nibung, Manisnya Maulid yang Menjaga Warisan dari Generasi ke Generasi

Penulis: Yuda Radak

RADAKBABEL.COM, BANGKA — Ada yang berbeda setiap kali Maulid Nabi Muhammad SAW digelar di Desa Nibung, Kecamatan Puding Besar, Kabupaten Bangka.

Selain lantunan doa, silaturahmi, dan rumah-rumah warga yang terbuka bagi tamu, ada satu sajian yang hampir selalu menjadi perhatian: dodol khas Nibung.

Minggu (30/8/2026), sejak pagi kendaraan dari berbagai penjuru mulai memasuki Desa Nibung. Warga dari luar desa berdatangan. Sebagian datang bersama keluarga, sebagian lainnya sengaja menyambangi kerabat dan sahabat yang sudah lama tidak berjumpa.

Dari satu rumah ke rumah lainnya, suasana berlangsung hangat. Tamu disambut dengan senyum dan sapaan. Hidangan pun disiapkan untuk menemani obrolan.
Di antara beragam sajian yang tersedia, dodol menjadi salah satu makanan yang paling diburu.

Teksturnya kenyal, rasanya manis, dan bentuknya sederhana. Namun, di balik kesederhanaannya tersimpan cerita panjang tentang tradisi masyarakat Nibung.
Dodol tidak sekadar diletakkan di atas meja sebagai makanan untuk tamu. Ia hadir sebagai bagian dari suasana Maulid, menemani percakapan, tawa, dan cerita keluarga yang kembali terhubung setelah sekian lama.

Sepotong dodol seolah menjadi pembuka percakapan.

Tamu mencicipinya, tuan rumah menjelaskan atau sekadar menawarkan tambahan. Dari situlah obrolan mengalir. Tentang kabar keluarga, kehidupan sehari-hari, hingga kenangan masa lalu ketika tradisi Maulid masih dilakukan oleh generasi terdahulu.

Baca Juga  Bersama Mitra Usaha, PT TIMAH Lakukan Pengerukan Muara Air Kantung Guna Permudah Akses Nelayan

Di Desa Nibung, dodol menjadi makanan yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga mengikat kenangan.

Tradisi membuat dodol sendiri telah menjadi bagian dari warisan masyarakat. Prosesnya bukan sesuatu yang sekadar dilakukan untuk menghasilkan makanan, melainkan bagian dari pengetahuan yang diwariskan dari orang tua kepada anak-anak mereka.

Karena itu, keberadaan dodol khas Nibung menjadi penting ketika masyarakat berbicara tentang keberlanjutan tradisi Maulid.

Mursyidin mengatakan, tradisi Maulid di Desa Nibung diharapkan tetap bertahan meski pelaksanaannya dilakukan secara berkala dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi masyarakat.

“Semoga tradisi ini terus bertahan hingga nanti dengan terus melaksanakan setiap tiga tahun sekali, tentunya dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi masyarakat. Kemudian menceritakan kepada generasi muda tentang perayaan ini serta mewariskan proses pembuatan kue dodol khas Nibung,” ujar Mursyidin, Minggu (30/8/2026).
Pesan tersebut memperlihatkan bahwa yang ingin diwariskan masyarakat bukan hanya perayaan Maulidnya.

Ada sesuatu yang lebih kecil tetapi justru sangat penting: cara membuat dodol, cara menyajikannya, dan nilai kebersamaan yang menyertainya.

Di tengah perubahan zaman, makanan tradisional menghadapi tantangan tersendiri. Generasi muda semakin akrab dengan berbagai makanan modern. Sementara makanan tradisional berpotensi hanya menjadi kenangan apabila tidak ada lagi yang bersedia membuat dan mengenal proses pembuatannya.

Baca Juga  BREAKING NEWS: Jalur Praperadilan Buntu, Ahyen Gagal Goyang Penyidikan Kasus Timah

Karena itu, setiap perayaan Maulid di Nibung menjadi semacam ruang untuk memperkenalkan kembali dodol kepada generasi muda.

Anak-anak dan kaum muda tidak hanya melihat dodol sebagai makanan yang tersedia di meja. Mereka dapat belajar bahwa ada proses, tenaga, keterampilan, dan kebersamaan yang berada di balik sajian tersebut.

Dari sana, warisan kuliner itu memiliki peluang untuk terus hidup.

Manis yang Mempertemukan

Maulid di Desa Nibung menunjukkan bahwa sebuah tradisi tidak selalu harus hadir dalam bentuk yang besar dan megah.

Kadang, tradisi justru bertahan melalui hal-hal sederhana.

Melalui pintu rumah yang terbuka. Melalui tamu yang datang tanpa banyak formalitas. Melalui percakapan antarkerabat.

Dan melalui sepiring dodol yang disuguhkan kepada siapa saja yang datang.

Pada perayaan Maulid tahun ini, warga luar desa kembali berdatangan. Mereka tidak hanya mencari suasana religius, tetapi juga merasakan kehangatan tradisi yang masih hidup di tengah masyarakat Nibung.

Dodol menjadi salah satu penandanya.

Manis rasanya, tetapi lebih manis lagi cerita yang menyertainya.

Baca Juga  60 Ponton Beroperasi, Hasil ‘Menghilang’: Dugaan Monopoli Timah di Air Kantung Menguak!

Sebab di balik setiap potong dodol terdapat tangan-tangan yang bekerja, pengetahuan yang diwariskan, serta harapan agar tradisi tidak berhenti pada satu generasi.

Pada akhirnya, dodol khas Nibung bukan sekadar kue tradisional.

Ia adalah rasa yang diwariskan.

Ia menjadi pengingat bahwa budaya dapat bertahan melalui makanan sederhana yang terus dibuat, disajikan, dan dinikmati bersama.

Dan setiap kali dodol kembali hadir di meja tamu saat Maulid, masyarakat Nibung seperti sedang menyampaikan pesan kepada generasi berikutnya. Tradisi boleh berubah mengikuti zaman, tetapi nilai kebersamaan jangan sampai hilang. (Rdk)

Hargai Karya Radak Jangan Salin Tanpa Izin

error: Content is protected !!