GROUP RADAK BABEL

Team Radak Babel Team Radak Babel Team Radak Babel

Benteng Liya Togo: Jejak Sejarah, Adat dan Islam yang Masih Hidup di Wakatobi

RADAKBABEL.COM, WAKATOBI — Di tengah hamparan kepulauan Wakatobi, terdapat sebuah kawasan yang menyimpan cerita panjang tentang perjalanan masyarakat masa lalu. Namanya Benteng Liya Togo, sebuah peninggalan sejarah yang berada di wilayah Liya, Wangi-Wangi Selatan.

Sekilas, yang terlihat hanyalah susunan batu tua yang mengelilingi kawasan tersebut. Namun di balik dinding benteng itu, tersimpan cerita tentang pertahanan, kekuasaan, agama, adat, hingga kehidupan masyarakat yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Benteng Liya Togo bukan sekadar bangunan pertahanan.

Kawasan ini menjadi salah satu jejak penting hubungan masyarakat Liya dengan sejarah Kesultanan Buton. Pada masa lalu, posisi benteng memiliki arti strategis sebagai tempat perlindungan sekaligus bagian dari kehidupan sosial dan pemerintahan masyarakat.

Di kawasan ini pula, sejarah Islam dan adat berjalan berdampingan.

Keberadaan masjid tua menjadi salah satu penanda penting perjalanan kehidupan keagamaan masyarakat Liya. Masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi bagian dari pusat kehidupan sosial masyarakat pada masa lalu.

Baca Juga  Prabowo Resmikan Kantor DPD Gerindra di Banten

Namun, kekuatan Benteng Liya Togo justru tidak hanya terletak pada batu-batu tuanya.

Kekuatan sebenarnya ada pada tradisi yang masih hidup.

Adat, penghormatan terhadap leluhur, kebersamaan masyarakat dan berbagai tradisi lokal menjadi bukti bahwa sejarah Liya tidak berhenti ketika masa kerajaan berakhir.

Sejarah tersebut terus diwariskan melalui cerita, ritual dan kehidupan masyarakat sehari-hari.

Bagi masyarakat setempat, benteng adalah pengingat bahwa generasi hari ini memiliki hubungan dengan generasi yang telah lebih dahulu membangun kehidupan di tanah tersebut.

Setiap sudut kawasan seolah memiliki cerita.

Ada kisah tentang pertahanan. Ada jejak pemerintahan. Ada perjalanan Islam. Ada adat yang terus dijaga. Semua bertemu dalam satu kawasan yang menjadikan Liya Togo bukan sekadar destinasi wisata, tetapi ruang hidup sejarah dan kebudayaan Wakatobi. Di tengah perkembangan zaman dan arus modernisasi, tantangan terbesar bukan hanya menjaga batu-batu benteng tetap berdiri.

Baca Juga  Skandal 200 Ton Monazite–Zircon Terkuak: Pemilik Gudang Deni Dibidik Pasal Tambang Ilegal

Lebih dari itu, bagaimana nilai, cerita dan tradisi yang melekat di dalamnya tidak ikut hilang. Sebab ketika sebuah benteng runtuh, yang hilang bukan hanya susunan batu. Yang bisa ikut hilang adalah cerita tentang siapa yang pernah hidup di sana, bagaimana mereka bertahan, bagaimana mereka membangun peradaban dan bagaimana mereka mewariskan identitas kepada generasi setelahnya.

Benteng Liya Togo karena itu bukan sekadar peninggalan masa lalu. Ia adalah saksi hidup perjalanan masyarakat Liya tempat sejarah, Islam dan adat bertemu, kemudian diwariskan sebagai identitas Wakatobi. (RADAK/ LA ODE M. MURDANI)

Hargai Karya Radak Jangan Salin Tanpa Izin

error: Content is protected !!