3.000 Paket Sembako, Dari Kepedulian Umat Kwan Tie Miau untuk Sesama
- calendar_month Senin, 21 Sep 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Penulis: Yuda Radak
PANGKALPINANG, RADAKBABEL.COM — Tumpukan beras, minyak goreng, garam dan mi instan memenuhi area Kelenteng Kwan Tie Miau. Bukan sekadar bahan kebutuhan pokok, ribuan barang tersebut menjadi bagian dari sebuah tradisi panjang berbagi kepada masyarakat, Pada Sabtu (19/9/2026).
Sebanyak 3.000 paket sembako kembali disiapkan Kelenteng Kwan Tie Miau untuk dibagikan kepada warga yang membutuhkan.
Setiap paket berisi 5 kilogram beras, minyak goreng, garam dan mi instan. Paket-paket tersebut dikemas dari berbagai sumbangan yang dikumpulkan umat Kelenteng Kwan Tie Miau.
Ketua Yayasan Kelenteng Kwan Tie Miau, Henry Kurniawan (70), mengatakan kegiatan tersebut bukan kegiatan yang baru dilakukan. Tradisi berbagi itu telah berlangsung selama puluhan tahun dan menjadi agenda sosial yang dilaksanakan secara rutin.
Menurut Henry, bantuan tersebut berangkat dari kesadaran umat untuk menyisihkan sebagian hasil yang mereka miliki dan kemudian membagikannya kepada masyarakat.
“Ini merupakan satu tanda kepedulian dari umat-umat Kelenteng Kwan Tie Miau. Mereka membagikan sedikit hasil mereka kepada saudara-saudara kita yang kurang mampu,” ujar Henry.
3.000 Paket, Ribuan Harapan
Di balik angka 3.000, ada kebutuhan sehari-hari yang coba diringankan.
Bagi sebagian keluarga, lima kilogram beras bukan sekadar angka. Beras adalah kebutuhan utama yang harus tersedia di dapur. Begitu pula minyak goreng, garam dan mi instan yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga.
Karena itu, paket sembako yang dibagikan tidak hanya berbicara tentang nilai barang yang diterima, tetapi juga tentang kepedulian dan perhatian kepada warga yang sedang membutuhkan.
Salah seorang penerima bantuan, Ema (50), mengaku bersyukur mendapatkan paket sembako tersebut.
“Alhamdulillah, ini bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari,” katanya.
Dikumpulkan dari Umat, Disalurkan untuk Masyarakat
Henry menjelaskan, seluruh sembako yang dibagikan berasal dari sumbangan umat Kelenteng Kwan Tie Miau.
Bantuan yang terkumpul kemudian dibawa ke kelenteng. Selanjutnya, bahan-bahan tersebut dipilah dan dikemas menjadi paket-paket sembako sebelum disalurkan kepada masyarakat.
Untuk menjaga ketepatan sasaran, pembagian kupon dilakukan melalui pihak kelurahan dan sejumlah tokoh masyarakat.
Pihak kelurahan kemudian menentukan warga yang dinilai berhak menerima bantuan.
Cara tersebut membuat penyaluran tidak semata-mata berdasarkan siapa yang datang lebih dahulu, tetapi mengacu pada warga yang dinilai membutuhkan di masing-masing wilayah.
Tak Memandang Perbedaan
Ada satu pesan yang terus ditekankan Henry dalam kegiatan tersebut bahwa bantuan tidak diberikan berdasarkan agama.
Kelenteng Kwan Tie Miau membuka bantuan bagi masyarakat yang dinilai membutuhkan, tanpa membedakan latar belakang penerima.
“Kami tidak memandang bulu dan agama. Semuanya rata. Yang penting mereka dinilai oleh kelurahan masing-masing sebagai keluarga yang berhak mendapatkannya,” kata Henry.
Di tengah keberagaman masyarakat, pembagian 3.000 paket sembako itu pun menjadi gambaran sederhana bagaimana kepedulian sosial dapat melampaui batas identitas.
Yang datang menerima bantuan tidak ditanya apa agamanya. Yang menjadi pertimbangan adalah kebutuhan.
Tradisi Berbagi Dua Kali Setahun
Bagi Yayasan Kelenteng Kwan Tie Miau, kegiatan sosial ini bukan agenda sesaat.
Henry mengatakan pembagian bantuan dilakukan dua kali dalam setahun.
Konsistensi tersebut menunjukkan bahwa berbagi telah menjadi bagian dari kegiatan sosial umat Kelenteng Kwan Tie Miau.
Ia pun menyampaikan terima kasih kepada seluruh umat yang telah menyisihkan sebagian hasil mereka untuk kemudian dikumpulkan dan disalurkan kepada masyarakat.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh umat Kelenteng Kwan Tie Miau yang telah menyumbangkan sedikit hasilnya untuk saudara-saudara kita. Bantuan itu dapat kami salurkan dengan baik,” ucapnya.
Dua Jam untuk Menyalurkan Kepedulian
Sebanyak 3.000 paket ditargetkan selesai disalurkan hanya dalam waktu sekitar dua jam.
Angka tersebut menggambarkan besarnya aktivitas yang berlangsung dalam satu kegiatan sosial. Ribuan paket yang sebelumnya dikumpulkan, dipilah dan dikemas, kemudian berpindah tangan kepada masyarakat penerima.
Namun setelah kegiatan selesai, yang tersisa bukan hanya kemasan sembako yang telah dibagikan.
Ada pesan yang lebih sederhana bahwa kepedulian bisa dimulai dari sesuatu yang dimiliki, kemudian disisihkan sedikit demi sedikit untuk orang lain.
Dari umat Kelenteng Kwan Tie Miau, beras lima kilogram, minyak goreng, garam dan mi instan kemudian berubah menjadi bantuan bagi ribuan keluarga.
Dan bagi penerimanya seperti Ema, paket tersebut mungkin sederhana.
Tetapi di meja makan keluarga, bantuan itu memiliki arti yang jauh lebih besar, ada kebutuhan sehari-hari yang sedikit lebih ringan untuk dijalani. (Rdk)
- Penulis: admin radak














